EGI Kemdikbud
    

Rumah/Markas Gerilya Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) Panglima Besar Jenderal Soedirman


Pada tanggal 18 Desember 1948, Belanda menyatakan tidak lagi mengakui dan terikat dengan perjanjian Renville dilanjutkan dengan melancarkan agresi militer kedua. Belanda dengan pasukan lintas udara menyerang kota Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia.Lapangan terbang Maguwo berhasil dikuasi dan akhirnya seluruh wilayah Yogyakarta dikuasai Belanda. Presiden, Wakil Presiden dan beberapa pejabat tinggi berhasil ditawan Belanda. Presiden Soekarno diterbangkan ke Prapat, Sumatera Utara dan Wakil Presiden Moh. Hatta ke Bangka. Namun kemudian Soekarno pun dipindahkan ke Bangka. Seluruh kekuatan TNI yang ada di Yogyakarta diperintahkan keluar kota untuk bergerilya. Panglima Besar Jenderal Soedirman memutuskan untuk memimpin gerilya dalam keadaan sakit. Dipimpin Jenderal Soedirman, anggota TNI bergerilya berpindah ke selatan Yogyakarta melewati Karesidenan Surakarta, Madiun dan Kediri. Setelah hampir 7 bulan bergerilya, Jenderal Soedirman memutuskan kembali ke Yogyakarta. Namum sesampainya di Pacitan yang saat itu masuk wilayah Karesidenan Madiun, Belanda menghadang. Perjalanan dengan rute Tirtomoyo akhirnya dialihkan ke daerah Sobo Nawangan. Di daerah Sobo Jenderal Soedirman tinggal selama 107 hari, lebih lama dibanding dengan daerah-daerah lainnya semasa melakukan gerilya. BErsama pengikut dan rakyat desa, beliau menunggu dan menyusun strategi untuk menghadapi tentara Belanda. Di Sobo pasuka gerilya ini menempati sebuah rumah penduduk sebagai markas. Didampingi ajudannya Kapten Supardjo Ruslam dan beberapa perwira lainnya, Panglima Besar Jenderal Soedirman telah berhasil meningkatkan moral para pejuang Republik Indonesia.

(05 Jul 2017 , Nawangan, Pacitan, Riva Argadia)