EGI Kemdikbud
    

Senja di Pulau Makasar, Kota Baubau


Perjalanan dari Kota Bau-Bau ke Pulau makasar tidak sampai setengah jam dengan menumpangi ojek lautjarangkaatau perahu mesin tempel. Sepanjang perjalanan, kita dapat menyaksikan birunya laut yang masih relatif bersih. Sesekali kita melihat ikan melompat memperlihatkan kepalanya di atas permukaan air laut.

 

Di Puma kita dapat menjumpai sejumlah tempat wisata yang oleh masyarakat setempat sendiri tidak disadari sebagai tempat wisata. Di antaranya makam Sultan Buton VIII Mardan Ali yang terletak di depan kantor Kelurahan Liwuto. Di Puma ada dua kelurahan, yakni Kelurahan Liwuto dan Kelurahan Sukanayo. Awalnya, dua kelurahan tersebut masuk dalam Kecamatan Wolio yang berkedudukan di jantung Kota Bau-Bau. Sama halnya dengan Kelurahan Tomba dan Kelurahan Wale.

 

Secara historis, Puma pernah menjadi pusat distrik (pemerintahan). Kampung-kampung (sekarang kelurahan) dekat Puma, seperti Lowulowu dan Kalialia, masuk dalam satu distrik yang dipimpin La Samahu (almarhum). “Waktu itu, bila orang Lowulowu dan Kalialia hendak bepergian, mereka datang mengurus pas jalan di Puma,” ungkap Idien, pensiunan pegawai (PNS) Kelurahan Liwuto.

Selain menjumpai makam Sultan Buton VIII, di Puma juga kita masih mendapatkan sejumlah tempat bersejarah lainnya, seperti Goa Keramat atau “Liana Binte” yang terletak di lingkungan Tanjung Batu, ujung Puma bagian selatan yang berhadapan langsung dengan Kota Bau-Bau. Gua tersebut sejak puluhan tahun ini ditutup dengan batu besar. Konon, orang-orang tua dahulu menjadikan goa itu sebagai tempat bertapa untuk mendapatkan ilmu sakti.

(05 Jul 2017 , Kokalukuna, Kota Baubau, Riva Argadia)