EGI Kemdikbud
    

TARI KABASARAN (CAKALELE)


Ekstra Kurikuler SD Negeri 11 Kota Manado, Sulawesi Utara

Pada awalnya tarian Kabasaran bernama Sakalele dan berubah menjadi cakalele. Saka berlaga dan lele berlari, berkejaran melompat-lompat. Kata Kabasaran berasal dari bahasa Minahasa yaitu Kawasalan, kemudian berkembang menjadi “Kabasaran” yang merupakan gabungan dua kata “Kawasal ni Sarian” “Kawasal” berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan “Sarian” adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa. Perkembangan bahasa regional Manado kemudian mengubah huruf “W” menjadi “B” sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran, namun  akhirnya menjadi tarian penjemput bagi para Pembesar.
Hingga kini tarian Cakalele merupakan salah satu tarian sakral di Sulawesi Utara, khususnya Minahasa. Tari Cakalele sangat akrab dalam kehidupan masyarakat Minahasa. Setiap perayaan hari-hari besar dalam kehidupan masyarakat Minahasa moderen, tarian ini selalu mendapat tempat untuk mengisi acara di sana seperti penjemputan tamu, perkawinan, dan pengawalan secara adat bagi petinggi atau tokoh masyarakat.
Para penari Cakalele semuanya adalah laki-laki, atau disebut waraney artinya prajurit atau kesatria. Pemimpin dalam tarian adalah Tonaas Wangko artinya pemimpin besar pasukan perang dalam hal ini berlaku sebagai pemimpin tarian. Pada dasarnya setiap pelaku tarian perang saat menari harus berwajah garang, tidak tersenyum, dan mata melotot. Hal ini menandakan kegarangan dari pasukan perang suku Minahasa di medan pertempuran. Pelaku tarian perang biasanya berjumlah minimal enam prajurit dan satu Pemimpin, serta di iringi oleh musik Tambur.
Setiap penari dilengkapi dengan santi atau pedang perang dan kelung atau perisai untuk menangkis serangan musuh. Pada sebagai pasukan tidak memakai santi atau kelung melainkan memakai wengko atau tombak. Keseluruhan kostum dalam tarian perang Kabasaran, setiap orang yang memakai akan merasa dan terlihat gagah layaknya seorang waraney yang penuh dengan keberanian dan siap untuk bertempur. Tarian kabasaran selalu di iringi dengan alat musik tambur, untuk menambah semangat dari para pasukan saat berperang atau saat melakukan tarian perang.(@lto)

(02 Apr 2018 , Wenang, Kota Manado, Lexy Torar)